MUSIM HAJATAN TELAH TIBA

JOHO-WONOGIRI, Musim hajatan, mungkin tak akan pernah ada dalam ramalan cuaca. Namun setiap tahunnya pasti ada. Musim hajatan, periode waktu di mana tetangga, saudara, handai taulan, kenalan banyak yang menyelenggarakan hajatan. Entah hajatan pernikahan, sunatan, ulang tahun, haul kematian atau hanya syukuran. Apapun keperluannya yang jelas apabila kita diundang tentunya diusahakan datang. Datangnya pun tidak hanya sekedar datang namun mestinya ada buah tangan.

 

Ngomong-ngomong tentang buah tangan itulah yang mungkin bisa menjadi keberatan untuk datang. Memang kadang ada undangan yang tertulis “tidak menerima sumbangan” . Tapi itu jarang, jarang sekali. Hanya orang-orang tertentu yang menyelenggarakan hajatan tetapi tidak menerima sumbangan. Mungkin mereka menyelenggarakan hajatan dan mengundang kita, namun benar-benar sebagai rasa syukurnya tidak mau menerima sumbangan dalam bentuk apapun.

 

Bicara tentang sumbangan. Judulnya sih sumbangan tapi ga bisa juga kali hanya sekedarnya. Ada etika, adab, kebiasaan yang berjalan di masyarakat kita. Ada yang menuliskan dalam kertas undangan, “ Mohon maaf, tidak menerima sumbangan dalam bentuk barang dan karangan bunga”. Membaca undangan demikian artinya apa? Kita sebagai pihak yang diundang tidak boleh memberikan sumbangan dalam bentuk barang yang biasa disebut kado. Begitu juga dalam bentuk karangan bunga. Mengapa demikian ?

 

Mungkin sang pengundang sudah tidak membutuhkan barang apapun lagi. Dia  sudah punya segalanya. Jadi tidak mau diberikan sumbangan / kado dalam bentuk barang. Daripada tidak terpakai ya lebih baik terus terang saja kalau tidak mau dikado. Begitu juga sumbangan dalam bentuk karangan bunga. Apa makna karangan bunga baginya? Berhargakah bagi yang mengundang? Karena dirasa tidak bermakna dan tidak berguna maka pihak pengundang tidak mau diberi karangan bunga. Daripada mubadzir terbuang begitu saja, hanya sekedar pajangan, lebih baik tidak menerimanya. Daripada ada yang memberikan tapi tidak berkenan, lebih baik dituliskan saja langsung dalam undangan. Begitu barang kali pemikirannya, sehingga pihak pengundang mencantumkan kata “ Mohon maaf, tidak menerima sumbangan dalam bentuk barang dan karangan bunga”

 

Berbeda lagi dengan etika sumbangan pada suatu daerah yang pernah saya ditemui. Ketika mendatangi hajatan, ada petugas yang menuliskan jenis dan banyaknya sumbangan yang diberikan. Tulisan tersebut berguna untuk suatu kali nanti jika yang diundang tadi mengadakan hajatan maka sumbangan yang diberikan dulu akan dikembalikan sejumlah yang pernah dia terima. Jadi sifatnya timbal balik. Ada bagusnya juga sistem seperti itu, artinya ada kegotongroyongan disana. Ketika seseorang akan mengadakan hajatan, dia bisa memperhitungkan kebutuhan yang diperlukan dan darimana akan didapatkannya.

 

Selain buah tangan berupa barang seperti bahan pangan beras, mie dan sejenisnya,  kado ataupun karangan bunga, yang paling lazim dibawa ketika kita mendatangi suatu hajatan adalah amplop yang di dalamnya berisi uang. Seberapa banyak uang dalam amplop tersebut yang akan disumbangkan? Jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung kedekatan kekerabatan, kedudukan dalam struktur sosial kemasyarakatan, dan kepangkatan.

 

Walaupun judulnya sumbangan, tidak berarti pihak yang menyelenggarakan hajatan orang yang kaya, berpangkat tinggi kemudian sumbangannya jadi sedikit. Sedangkan orang yang ga punya, pangkatnya rendah, penghasilannya pas-pasan kemudian sumbangannya jadi besar. Kelihatannya tidak seperti itu. Di masyarakat kita pada umumnya kalau kekerabatan keluarga dekat biasanya nilai amplopnya akan lebih besar. Terkadang untuk menyumbang orang yang lebih kaya dan berpangkat malah nilai amplopnya juga lebih besar. Tidak sesuai dengan jenis katanya yaitu “SUMBANGAN”. Kalau sumbangan kan mestinya diberikan pada orang yang lebih membutuhkan dan tentunya juga lebih besar pada yang membutuhkan. Namun untuk sumbangan pada hajatan lazimnya tidak seperti itu.

 

Penyelenggaraan hajatan sekarang ini, sepertinya sudah mengalami pergeseran dari tujuan diadakannya walimah sebagaimana tuntunan agama Islam. Walimah diadakan dengan tujuan mengumumkan adanya pernikahan, mewujudkan rasa syukur karena telah menyempurnakan separuh agama, memohon doa dari kaum kerabat handai taulan. Walimah yang  awalnya diadakan dengan tujuan tersebut, sekarang ini sepertinya sedikit banyak diselenggarakan untuk ajang pesta dan bermewah-mewah. Hajatan walimah bukan lagi sekedar ungkapan rasa syukur namun ada yang berharap dengan hajatan itu modal penyelenggaraan hajatan bisa balik dari sumbangan yang diberikan bahkan kalau perlu ada keuntungan di sana.

 

Itulah sebabnya seringkali keluhan di masyarakat terdengar. Wah dah musim hajatan lagi, pengeluaran lebih besar. Bagaimana tidak, bisa sehari semalam kalau pas musim hajatan kita harus mendatangi undangan 2-3 hajatan. Bisa dihitung berapa dana yang harus disisihkan untuk keperluan semacam ini. Namun demi terjalinnya silaturahmi, demi kegotongroyongan, guyub rukun di masyarakat, mau tidak mau kita yang hidup dalam suasana bermasyarakat semacam itu harus lebih bijaksana. Kita mesti bisa menyikapi secara baik bagaimana memberikan sumbangan dalam hajatan seperti ini.  Jangan sampai kita dicap tidak bermasyarakat, dicap pelit, kikir dan sebagainya hanya gara-gara tidak mau mendatangi undangan hajatan.

 

(sumber kompasiana)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan