Sejarah Desa

Menurut cerita dari seorang manca kaki yaitu eyang Suto yang dianggap tahu dan paham tentang sejarah Desa Joho, yaitu pada masa penjajahan Belanda ada seoarang bekel yang bernama Noyokromo. Dengan kejujuran dan kebaikannya maka diangkatlah beliau menjadi Ronggo (sekarang Kepala Desa). Pada masa pemerintahannya belum ada infrastruktur seperti tempat ibadah, sekolah, dll. Sedangkan pembantu-pembantunya (sekarang Perangkat Desa) masih dijabat/diisi oleh saudara-saudaranya sendiri.

Adapun penghasilan dari Ronggo tersebut adalah tanah bengkok (sawah) kurang lebih 9 bahu ( + 6 Ha).

Pemerintahan Ronggo Noyokromo belum ada perubahan mendasar sampai beliau wafat pada bulan April 1945. Tampuk pemerintahan akhirnya diteruskan oleh anak menantunya dari istri muda yang bernama Saikun Hatmo Wiyono.

Pada masa pemerintahan beliau waktu itu masih dalam penjajahan Jepang yang terkenal dengan sebutan jaman pageblug (mahal makanan), maka oleh beliau diperkenalkan kepada masyarakat tanaman cengkeh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pemerintahan Bapak Saikun berjalan kurang lebih selama 17 tahun antara tahun 1945 s/d 1962, beliau wafat pada tanggal 10 Januari 1962.

Setelah beliau wafat, pemerintahan dilanjutkan melalui Pemilihan Kepala Desa yang pertama kali diadakan dengan diikuti calon Kepala Desa sebayak 5 (lima) orang sebagai berikut :

  1. Bapak Sayid;
  2. Bapak Sastro Dimejo;
  3. Bapak Karto Prayitno (Jogotirto);
  4. Bapak Karno; dan
  5. Bapak Atmo Saimin.

Hasil pemilihan tersebut dimenangkan oleh Bapak Atmo Saimin dan ditetapkan sebagai Kepala Desa Joho untuk pertama kalinya yang dipilih langsung oleh masyarakat melalui Pemilihan Kepala Desa.

Pada masa pemerintahan Bapak Atmo Saimin yaitu tahun 1966  infrastruktur mulai digalakkan di Desa Joho antara lain pendirian Sekolah Dasar (SD) Joho 1 dan Sarana Ibadah (Masjid) yang hanya terbuat dari bambu dan kayu dan dikerjakan secara gotong royong. Begitu juga jalan-jalan (putar distrik) yang masih berupa tanah liat mulai dibuat makadam dengan sistem sangga gawe.

Pemerintahan Bapak Atmo Saimin yang dinilai berhasil tidak begitu lama dikarenakan baliau wafat, selanjutnya diadakan pemilihan Kepala Desa lagi untuk menggantikan jabatan beliau dengan diikuti 2 (dua) calon yaitu Bapak Sutarmin dan Bapak Kasdi Atmojo. Pada pemilihan tersebut, Bapak Sutarmin dinyatakan sebagai pemenang dan ditetapkan sebagai Kepala Desa yang baru dengan masa jabatan 8 (delapan) tahun.

 

 

Pada Tahun 1990 telah habis masa jabatan Bapak Sutarmin, untuk itu diadakan kembali pemilihan Kepala Desa yang diikuti oleh 5 (lima) orang calon yaitu

  1. Bapak Sriyono;
  2. Bapak Sakiman;
  3. Bapak Katino;
  4. Bapak Darmo Suwito; dan
  5. Bapak Wiryadi.

Hasil pemilihan menempatkan Bapak Wiryadi sebagai pemenang dan ditetapkan sebagai Kepala Desa yang baru dengan  masa jabatan 8 (delapan) tahun dan pada periode kedua beliau terpilih kembali menjadi Kepala Desa Joho yang pada waktu itu hanya diikuti oleh beliau sendiri (calon tunggal).

Pada tahun 2007 jabatan beliau telah berakhir dan diadakan kembali pemilihan Kepala Desa Joho yang diikuti oleh 2 (dua) orang calon yaitu Bapak Triyanto dan Ibu Lestari Prihatiningsih.

Hasil pemilihan Kepala Desa tersebut menempatkan Bapak Triyanto sebagai pemenang dan dan pada periode kedua beliau terpilih kembali menjadi Kepala Desa Joho yang pada waktu itu hanya diikuti oleh beliau sendiri (calon tunggal).